Setiap pekerjaan pasti diperlukan
sebuah perencanaan, begitupun dengan seorang guru juga perlu membuat suatu
perencanaan. Perencanaan pembelajaraan itu dituangkan dalam sebuah Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang harus sesuai dengan silabus. Silabus ini
merupakan perencanaan jangka panjang sedangkan RPP perencanaan jangka pendek. Untuk
menyusun RPP ini guru menerapkan merdeka belajar sesuai instruksi dari Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan dalam arti guru diberikan kebebasan membuat rencana
pembelajaran. Di dalam RPP ini juga perlu dicantumkan media pembelajaran yang akan
digunakan dalam proses pembelajaran. Media
pembelajaran pembelajaran memiliki peran penting dalam pembelajaran.
Media pembelajaran meliputi orang
dan kegiatan yang memang dikondisikan untuk memperoleh hasil belajar (Gerlach
dan Ely). Penggunaan media pembelajaran sangat menentukan pengalaman belajar
yang diperoleh peserta didik seperti yang dikemukakan oleh Edgar Dale melalui Cone of Experiences. Berdasarkan Cone of Experiences, guru dapat
menentukan media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik pebelajar
sehingga hasil yang diperoleh maksimal. Selain itu juga diperlukan beberapa
pertimbangan untuk memilih media pembelajaran yang tepat, antara lain yaitu:
ACTION (Access, Cost, Technology,
Interactivity, Organization, dan Novelty). Sedangkan untuk merencanakan dan
menerapkan media dalam mengajar, guru dapat menggunakan panduan the ASSURE
model yang terdiri dari analyze leaners,
state objectives, select media dan materials, utilize media & materials,
require learner participation, dan evaluatae & revise. Media
pembelajaran yang berhasil adalah yang dapat mengubah perilaku peserta didik (behavior change) serta meningkatkan
hasil belajar. Keberhasilan belajar ini dipengaruhi oleh beberapa aspek antara
lain yaitu tujuan, kondisi peserta didik, fasilitas pendukung, waktu yang
tersedia dan kemampuan guru untuk menggunakannya dengan tepat.
Untuk mengikuti perkembangan
teknologi yang sedemikian pesat harus diimbangi dengan literasi teknologi,
literasi data serta literasi manusia. Prinsip belajar yang digunakan adalah
belajar sepanjang hayat yaitu seleksi pilihan, percaya diri, berpikir kritis,
kreativitas, komunikasi dan kolaborasi. Dengan menggunakan prinsip tersebut
maka kita tidak akan ketinggalan dengan perkembangan teknologi. Transformasi
teknologi dalam pendidikan berupaya meningkatkan dan memperbaiki unsur akses,
mutu dan relevansi serta tat kelola pendidikan. Rumah belajar merupakan wujud
dari transformasi digital yang sangat bermanfaat dalam pembelajaran saat ini
yang dalam kondisi pandemi Covid 19.
Media pembelajaran berteknologi
digital merupakan media yang canggih atau memenuhi kebaruan (novelty). Sedangkan peserta didik sudah
terbiasa dengan teknologi digital (digital
native). Perbedaan antar generasi merupakan hal yang wajar. Dengan adanya Teknologi
digital ini dapat meminimalisir kesenjangan antar generasi tersebut. Media
digital sangat bermanfaat dalam konteks
pendidikan diantaranya yaitu dapat
meningkatkan keterlibatan siswa, membantu mempromosikan kesadaran kritis serta
membantu mendorong kesetaraan. Contoh pemanfaatan teknolgi digital lainnya
yaitu komputasi awan untuk kemudahan menambah akses bahan pembelajaran dan
pengguna layanan digital (UNBK, e-rapor, DAPODIK), kecerdasan buatan (Ai),
internet of things untuk mendukung pembelajaran kolaboratif dan kreatif,
konektivitas 5G untuk pembelajaran Augmented
Reality dan Virtual Reality, digitalisasi
akan mendorong tumbuhna aplikasi dan konten pembelajaran berbasis digital
(Rumah Belajar) serta Big Data yang digunakan untuk mendukung integrasi layanan
pendidikan bagi guru dan siswa di sekolah. (DAPODIK).
Media maupun konten digital yang
diperlukan dalam pembelajaran mempunyai ciri multimodal, multiplatform dan
personalisasi. Teknologi digital yang saat ini tren digunakan dalam dunia
pendidikan antara lain yaitu: Augmented
reality/ Virtual reality/ Mixed Reality, redesigned learning spaces (Smartboards), kecerdasan buatan,
personalisasi belajar, gamifikasi dan game based learning, multimedia
interaktif, digital video dan animasi, podcast. Bermacam-macam media
pembelajaran berteknologi digital tersebut dapat dimanfaat guru dalam
pembelajaran sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini merupakan
suatu tantangan bagi guru sebagai seorang pendidik untuk meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan baru dalam desain dan produksi sumber daya
multimedia.
Selain media, sumber belajar juga sangat
diperlukan dalam pembelajaran dan juga harus dicantumkan dalam perencanan
pembelajaran (RPP). Sama dengan halnya menentukan media yang tepat, guru juga
harus perlu mengindentifikasi dan memanfaatkan sumber belajar yang tersedia
baik yang telah dirancang (by design) maupun yang hanya tinggal memanfaatkan
saja (by utilization). Sumber belajar dapat diklasifikasikan dengan akronim POBATL (Pesan, Orang, Bahan, Alat/
teknologi. Teknik/ Metode, Lingkungan/ Latar). Supaya sumber belajar dapat
dimanfaat dengan efektif dan efisian maka harus memiliki fungsi: total teaching, major resources dan suplemen view. Pemanfaatan beragam
sumber belajar dan media pembelajaran berteknologi digital ini merupakan upaya
kreatif guru dalam menghadapi perkembangan teknologi dan perubahan kurikulum
dalam proses pendidikan. Jadi teknologi dapat diintergrasikan ke dalam
pembelajaran dengan menggunakan model TPACK (Technological, Pedagogical, Content Knowledge).

Komentar
Posting Komentar